Pengantar Minggu Ini 30 Januari 2012 – 5 Februari 2012
Pada minggu ini akan dibahas lebih lanjut hasil konferensi: “Moving Towards Universal Coverage: Health Financing Matters” di Bangkok. Menarik bahwa ternyata banyak negara berkembang telah lebih dulu dari Indonesia mencapai Universal Coverage. Pelajaran menarik lain adalah bahwa untuk mencapai universal coverage tidak harus dengan biaya mahal serta membebani fiscal sebuah negara. Yang dibutuhkan adalah komitmen politik dan kesiapan teknis. Berikut ini adalah link terkait dengan konferensi tersebut:
- htttp://www.nhso.go.th/eng
- htttp://www.hsri.or.th
- htttp://www.pmaconference.mahidol.ac.th
- htttp://ghlc.lshtm.ac.uk
- htttp://www.ihpp.thaigov.net
- htttp://www.hitap.net/en
Link-link tersebut dianjurkan oleh Prof Hasbullah Thabrany dari UI. Selamat beraktivitas!
|
Website Isu Prioritas
|
||
![]() |
Isu-isu prioritas yang saat ini menjadi tantangan sektor kesehatan. Informasi lebih lanjut |
Website di bawah ini akan dapat , menjadi sumber belajar serta sumber referensi langsung dari lembaga-lembaga terkemuka di bidang kesehatan seperti kementrian kesehatan, BKKBN, WHO, World Bank Institute, dan lain sebagainya. Dengan mengakses website-website tersebut, pembaca dapat mengkonfirmasi berbagai data dan informasi terbaru.
Dari data yang ada setiap tahun 12 juta orang di dunia terserang kanker dan 7,6 juta diantaranya meninggal. Ada 13 persen kematian dunia disebabkan oleh kanker.
Dan bila tidak dilakukan pengendalian maka pada 2030 diperkirakan bahwa 26 juta orang akan menderita kanker dan 17 juta diantaranya meninggal terutama di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
"Peringatan Hari Kanker Sedunia ini sangat penting dan strategis untuk melihat dan mencermati dan menelaah besarnya masalah dampak dari penyakit kanker. Sebagaimana kita ketahui kanker tidak hanya terkait masalah kesehatan melainkan juga menimbulkan dampak sosial dan ekonomi masyarakat," kata Ibu Negara Ani Yudhoyono saat membuka seminar nasional tentang Kanker di Istana Negara Jakarta, Rabu pagi.
Pada 2010, program Jamkesmas mengeluarkan dana sebesar lebih dari Rp 143 miliar untuk rawat inap penderita kanker di kelas 3 rumah sakit. Sementara PT Askes pada 2010 menetapkan pengobatan kanker menempati urutan keempat dalam penyerapan biaya.
Demikian dikatakan Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih dalam sambutannya pada seminar nasional tentang kanker memperingati Hari Kanker Sedunia di Istana Negara Jakarta, Rabu pagi.
Pada 2011, terjadi lonjakan dalam pembiayaan kanker program Jamkesmas sebesar delapan persen dari tahun sebelumnya. Jenis kanker yang dibiayai didominasi oleh kanker payudara dan kanker serviks
Solopos, JOGJA -Kuota warga penerima Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) di DIY sebanyak 968.000 jiwa lebih, melebihi jumlah warga miskin yang hanya 555.000 orang. Artinya 43% anggaran Jamkesmas dari APBN atau 416.240 jiwa penerima asuransi untuk warga miskin ini, tak tepat sasaran.
Kabid Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan DIY, Elvi Effendi usai rapat kerja bersama Komisi D DPRD setempat, Senin (13/2/2012) mengungkapkan, sedianya kuota Jamkesmas untuk DIY yang mencapai 968.000 lebih tersebut sudah mengcover seluruh warga miskin DIY sebanyak 555.000 jiwa berdasarkan data terkahir Badan Pusat Statistik (BPS).
Namun kenyataanya tetap saja masih ada warga miskin di Jogja yang tak tercover asuransi kesehatan. Buktinya kata dia, pemerintah masih harus membuat program Jaminan Kesehatan Sosial (Jamkesos) dan Jaminan Kesehatan Daerah (Jameksda) untuk meng-cover warga miskin yang tak masuk Jamkesmas. Adapaun data penerima Jamkesos yang dikeluarkan Pemprov saat ini tercatat sebanyak 320.000 jiwa, sedangkan Jamkesda merupakan kewenangan kabupaten atau kota. “Jamkesmas saja sudah 968.000 tambah Jamkesos 320.000 sudah berapa, sedangkan warga miskin cuma 555.000 tapi tetap saja masih ada warga miskin yang nggak punya asuransi,” ungkap Elvi.




